GalaPos ID, Yogyakarta.
Ketimpangan akses pendidikan masih menjadi tantangan bagi banyak anak di wilayah pedalaman Indonesia. Namun keterbatasan tersebut tidak menghentikan langkah Nur Asfia untuk mengubah masa depannya.
Berbekal tekad dan keberanian merantau sejak usia 14 tahun, perempuan asal pedalaman Kalimantan Tengah itu berhasil mencatat sejarah sebagai sarjana pertama di keluarganya.
"Jarak dari pedalaman Kalimantan ke kampus mungkin ribuan kilometer, tetapi yang lebih jauh adalah kesenjangan akses pendidikan yang masih dirasakan banyak anak daerah hingga hari ini."
Baca juga:
- Dari Cagar Budaya ke Canda Bahagia, Potret Humanis Dinas Kebudayaan Makassar
- Video Pesta Gay Karawang, Polisi Telusuri Dugaan Pelanggaran Kesusilaan
- Aklamasi di Munas HIPMI, Ade Jona Nahkodai Organisasi Pengusaha Muda
Gala Poin:
1. Nur Asfia merantau dari pedalaman Kalimantan Tengah ke Pulau Jawa sejak usia 14 tahun demi memperoleh akses pendidikan yang lebih baik.
2. Ia berhasil menjadi sarjana pertama di keluarganya dengan IPK 3,95, lulus dalam 3,5 tahun melalui jalur publikasi ilmiah dan meraih pendanaan PKM nasional.
3. Kisahnya menjadi contoh bagaimana pendidikan dapat menjadi alat mobilitas sosial bagi generasi muda daerah, khususnya perempuan di Kalimantan Tengah.
Perjalanan tersebut tidak dimulai dari ruang kuliah, melainkan dari keputusan besar meninggalkan kampung halaman menuju Pulau Jawa demi mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik. Keputusan yang tidak mudah bagi seorang remaja itu kemudian menjadi titik awal perjalanan panjang yang membentuk karakter dan masa depannya.
Saat menempuh pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Bogor, Fia menghadapi tantangan yang tidak sedikit. Salah satunya adalah ketidaksesuaian jurusan dengan minat dan kemampuannya. Namun pengalaman tersebut justru menjadi pelajaran penting dalam menemukan arah hidup yang ingin ditempuh.
“Saat menempuh pendidikan SMK di Bogor, sempat merasa berada di jurusan yang kurang sesuai dengan minat dan kemampuan. Namun, pengalaman tersebut justru menjadi titik balik yang membantu mengenali diri dan menentukan arah yang ingin ditempuh,” terang Nur Asfia, dalam keterangan yang diterima GalaPos ID, Kamis, 11 Juni 2026.
Setelah menyelesaikan pendidikan SMK, Fia melanjutkan studi di Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. Di bangku kuliah, ia aktif mengembangkan kapasitas akademik dan organisasi melalui berbagai kegiatan pengembangan diri.
Baca juga:
SWA dan LM FEB UI: Perusahaan Harus Rekayasa Kinerja Manusia di Era AI
Prestasi tersebut tidak hanya menjadi capaian pribadi, tetapi juga menjadi tonggak sejarah bagi keluarganya. Fia resmi menjadi sarjana pertama dalam keluarganya, sebuah pencapaian yang merepresentasikan perubahan sosial melalui pendidikan.
Menjelang kelulusan, hasil kerja keras dan jejaring profesional yang dibangunnya mulai membuahkan hasil. Melalui platform LinkedIn, Fia memperoleh kesempatan berkarier tanpa harus mengirimkan CV secara konvensional.
“Terlibat dalam berbagai proyek komunikasi yang mencakup sektor swasta, BUMN, hingga instansi pemerintah dengan fokus pada riset komunikasi, strategi komunikasi, dan marketing communications,” sebut Fia, panggilan akrab Nur Asfia.
| Nur Asfia berhasil menjadi sarjana pertama di keluarganya dengan IPK 3,95, lulus dalam 3,5 tahun melalui jalur publikasi ilmiah dan meraih pendanaan PKM nasional. Foto: istimewa |
Kisah Nur Asfia menunjukkan bahwa pendidikan tidak sekadar menjadi sarana memperoleh pekerjaan, tetapi juga alat mobilitas sosial yang mampu membuka akses terhadap peluang yang sebelumnya sulit dijangkau.
Di tengah masih lebarnya kesenjangan pendidikan antara daerah perkotaan dan wilayah pedalaman, perjalanan Fia menjadi contoh bahwa kesempatan dapat diraih ketika keberanian bertemu dengan kerja keras.
Bagi Fia, pendidikan adalah jalan untuk memperluas wawasan, membangun kepercayaan diri, sekaligus membuka pintu kesempatan baru. Melalui kisahnya, ia berharap semakin banyak generasi muda Kalimantan Tengah, khususnya perempuan, berani melangkah keluar dari zona nyaman untuk mengejar pendidikan dan pengalaman yang lebih luas.
Pesan yang ingin disampaikannya sederhana: masa muda adalah waktu untuk belajar, mencoba, gagal, bangkit kembali, dan menemukan potensi terbaik yang dimiliki setiap orang.
Baca juga:
Fatoni: Kemandirian Fiskal Daerah Ditentukan Keberanian Berinovasi
"Ketika sebagian orang menganggap pendidikan adalah kewajiban biasa, bagi anak-anak pedalaman Indonesia pendidikan sering kali menjadi perjalanan panjang yang harus ditempuh dengan keberanian luar biasa."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #NurAsfia #PendidikanIndonesia #PerempuanInspiratif #GenerasiKalimantan #SarjanaPertamaKeluarga