GalaPos ID, Jakarta.
Cadangan beras pemerintah mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Per awal Mei 2026, stok beras nasional yang dikelola Perum Bulog tercatat mencapai 5,2 juta ton.
Angka itu disebut menjadi bantalan strategis menghadapi ancaman krisis iklim, gejolak harga pangan global, hingga potensi gagal panen.
"Gudang Bulog nyaris penuh, stok beras nasional mencetak rekor 5,2 juta ton. Namun, di balik klaim ketahanan pangan yang kuat, muncul pertanyaan soal kesiapan infrastruktur gudang dan keberlanjutan distribusi pangan nasional."
Baca juga:
- Mengulik Potensi Buah Langsat dalam Skin Care
- Jejak Digital dan Press Release, Kunci Kepercayaan Publik
- Rp18 Miliar untuk TPA Landih, Bangli Targetkan Sistem Controlled Landfill
Gala Poin:
1. Cadangan beras RI mencapai rekor 5,2 juta ton per Mei 2026.
2. DPR menyebut stok melimpah menjadi bantalan menghadapi krisis iklim dan gejolak global.
3. Sejumlah gudang Bulog masih membutuhkan renovasi untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan.
Anggota DPR RI Dapil DKI Jakarta III Fraksi Gerindra, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, menyampaikan hal tersebut saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Gudang Bulog Kelapa Gading, Jakarta, Kamis, 7 Mei 2026.
Saat meninjau kompleks pergudangan Bulog, Rahayu menyebut kondisi stok beras nasional berada dalam posisi aman dengan volume cadangan yang dinilai sangat melimpah.
“Justru dengan adanya stok beras yang sedemikian banyaknya, jika terjadi gagal panen karena krisis iklim, jika terjadi permasalahan. Sekali lagi bukan hanya di Indonesia, tapi di dunia kita melihat dengan minyak ya, ini justru mengamankan dan memastikan bahwa harga bisa terjaga karena stok kita cukup,” jelas Rahayu, Kamis, 7 Mei 2026.
Gudang Bulog di Kelapa Gading diketahui memiliki kapasitas penyimpanan hingga ratusan ribu ton. Setiap unit gudang mampu menampung sekitar 3.500 ton beras dengan total lebih dari 70 unit gudang tersedia.
Baca juga:
IHSG Menghijau di Tengah Outflow, Apa Artinya bagi Investor?
Menurut dia, stok beras yang melimpah menunjukkan penguatan ketahanan pangan nasional sekaligus menjadi instrumen menjaga stabilitas harga di tengah ancaman El Niño dan ketidakpastian global.
“Di mana kita punya stok yang melebihi kebutuhan sehingga bisa bertahan selama berapa 11 bahkan berapa bulan ke depan,” tegas Rahayu.
Meski demikian, sidak tersebut juga menemukan persoalan infrastruktur penyimpanan. Sejumlah gudang Bulog disebut masih membutuhkan renovasi agar daya tampung dapat terus ditingkatkan.
Rahayu mengatakan Fraksi Gerindra akan terus memantau kondisi stok Bulog di berbagai daerah untuk memastikan kebutuhan pangan masyarakat tetap aman dan kesejahteraan petani tetap terjaga.
Di sisi lain, tingkat keterisian gudang Bulog di berbagai wilayah dilaporkan telah mencapai 98 persen. Pemerintah kini berfokus pada optimalisasi hasil panen dalam negeri dan penyerapan gabah petani guna menjaga stabilitas pasokan.
Kondisi stok yang melimpah juga dimanfaatkan untuk program SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) guna menekan gejolak harga di pasar.
Namun, di tengah optimisme tersebut, tantangan distribusi, kualitas penyimpanan, hingga keberlanjutan serapan gabah petani menjadi pekerjaan rumah yang masih harus diuji dalam jangka panjang. Rekor stok beras belum otomatis menjawab persoalan tata kelola pangan jika infrastruktur penyimpanan dan distribusi belum sepenuhnya siap menghadapi lonjakan produksi berikutnya.
Baca juga:
Bima Arya: Kunci Hadapi Krisis Iklim Ada di Pemerintah Daerah
"Stok beras Indonesia mencapai rekor 5,2 juta ton pada Mei 2026. DPR RI dan pemerintah menyebut kondisi ini sebagai bukti ketahanan pangan nasional di era Presiden Prabowo Subianto, meski tantangan distribusi dan kapasitas gudang masih menjadi sorotan."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #KetahananPangan #Bulog #StokBeras #PrabowoSubianto #EkonomiIndonesia
.jpeg)
.jpeg)