Jelang Iduladha 1447 H, Kementan Wanti-Wanti Panitia Kurban Asal Potong

GalaPos ID, Jakarta.
Menjelang Iduladha 1447 Hijriah, pemerintah mulai menyoroti persoalan yang selama ini kerap dianggap sepele dalam pelaksanaan kurban: standar kesehatan dan kebersihan pemotongan hewan.
Di tengah tradisi tahunan yang berlangsung masif di berbagai daerah, praktik penyembelihan tanpa pengawasan memadai dinilai masih berpotensi membahayakan masyarakat.

Jelang Iduladha 1447 H, Kementan Wanti-Wanti Panitia Kurban Asal Potong
Dua pekan sebelum Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, pasar hewan kurban di Toboali, Bangka Selatan, mengalami penurunan penjualan. Harga sapi qurban yang melonjak hingga 30 persen berdampak pada minat beli warga.  Foto: istimewa 

 

"Di tengah semangat berbagi daging kurban, publik kembali dihadapkan pada pertanyaan klasik: yang dipotong hewan kurban, atau justru standar kebersihan dan keselamatan pangan?"

Baca juga:

Gala Poin:
1. Kementan memperkuat edukasi kurban higienis dan sehat untuk mencegah risiko kesehatan masyarakat menjelang Iduladha 1447 H.
2. Masalah klasik pelaksanaan kurban masih berulang, mulai dari lokasi pemotongan tidak higienis hingga penanganan daging yang tidak sesuai standar.
3. Akademisi dan pakar veteriner mengingatkan pentingnya kompetensi panitia kurban, termasuk pemeriksaan hewan, kesejahteraan hewan, dan pemisahan daging serta jeroan.


Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat edukasi pelaksanaan kurban sehat, aman, higienis, dan sesuai syariat Islam. Langkah ini dilakukan untuk menekan risiko penyebaran penyakit dari hewan serta memastikan kualitas daging yang diterima masyarakat tetap layak konsumsi.

Sorotan utama pemerintah bukan hanya pada proses penyembelihan, tetapi juga minimnya pemahaman sebagian panitia kurban terkait penanganan hewan dan daging pascapemotongan. Persoalan seperti lokasi pemotongan yang tidak higienis, pencampuran jeroan, hingga pemeriksaan kesehatan hewan yang diabaikan masih menjadi temuan berulang setiap Iduladha.

Upaya edukasi tersebut melibatkan dinas peternakan, pengurus masjid, akademisi, hingga pakar kesehatan hewan. Fokus pembinaan mencakup pemilihan hewan kurban, penanganan sebelum dan sesudah penyembelihan, hingga penerapan standar kebersihan di lokasi pemotongan.

Baca juga:
80 Cambuk untuk Jempol: Reaktivasi Hisbah di Era Fitnah Digital

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Kementan, I Ketut Wirata, menegaskan peningkatan kapasitas panitia kurban menjadi faktor penting agar pelaksanaan kurban tidak sekadar memenuhi tradisi, tetapi juga memenuhi standar kesehatan masyarakat.
 
“Peningkatan pemahaman bagi panitia kurban sangat diperlukan, mulai dari penentuan hewan kurban yang sesuai syariat dan sehat, tata cara penanganan hewan, kebersihan lokasi serta peralatan pemotongan, hingga pelaksanaan pemeriksaan ante mortem dan post mortem,” ujar I Ketut Wirata dalam keterangan tertulis yang diterima GalaPos ID, Kamis, 14 Mei 2026.

Menurutnya, Kementan terus berkolaborasi dengan perguruan tinggi dan dinas daerah guna memastikan pelaksanaan kurban berjalan aman, tertib, dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.

Sementara itu, Staf Pengajar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Supratikno, menyoroti masih rendahnya pemahaman sebagian juru sembelih terkait kesejahteraan hewan dan kualitas daging.

“Hewan kurban sebaiknya dipuasakan maksimal 12 jam sebelum penyembelihan, tetapi tetap diberi minum. Jika lebih dari itu, hewan harus kembali diberi pakan. Ini untuk menjaga kualitas daging dan mengurangi risiko gangguan pencernaan,” ungkap Supratikno.

Bukan Hanya Soal Syariat, Kementan Ungkap Risiko Kurban Tanpa Standar Higienis
Penjualan kambing di Toboali, Bangka Selatan, masih lesu jelang Iduladha 1447 H. Kenaikan harga sapi hingga 30 persen membuat daya beli masyarakat menurun dan pedagang mulai khawatir stok hewan kurban tidak habis terjual. Foto: istimewa

 

Persoalan lain yang dinilai masih sering diabaikan ialah penanganan daging dan jeroan setelah penyembelihan. Dalam praktik di lapangan, pencampuran bagian organ dengan daging mentah masih kerap ditemukan, padahal berisiko menurunkan kualitas dan kebersihan pangan.

Dosen SKHB IPB University, Denny Widaya Lukman, mengingatkan pentingnya pemisahan area dan bagian organ hewan agar distribusi daging kurban tetap higienis hingga diterima masyarakat.

“Area pemotongan harus bersih, dan pemisahan antara daging dan jeroan perlu dilakukan. Jeroan juga harus dipisahkan antara jeroan merah seperti hati dan jantung, serta jeroan hijau seperti usus dan perut,” kata Denny.

Baca juga:
Bantuan PIP 2026 Naik Cakupan, Risiko Salah Sasaran Mengintai

Pemerintah berharap pengawasan dan edukasi lintas sektor dapat memperbaiki kualitas pelaksanaan kurban tahun ini. Sebab, di tengah tingginya antusiasme masyarakat berkurban, persoalan kesehatan pangan tidak lagi bisa dipandang sebagai urusan pelengkap seremoni tahunan.

Jika tidak dibenahi, Iduladha berisiko terus menjadi agenda rutin dengan masalah yang berulang: penyembelihan massal tanpa standar memadai, sementara masyarakat penerima daging menjadi pihak yang menanggung risikonya.

 

 

Baca juga:
Sidang Tipikor Surabaya: Eks Pegawai Pelindo Ungkap Kejanggalan Surat Dakwaan

Iduladha tinggal menghitung hari, tetapi persoalan klasik tetap muncul: panitia kurban ramai, edukasi minim. Kementan kini turun tangan agar daging kurban tak sekadar halal, tetapi juga aman dikonsumsi masyarakat."

"Kementan mulai khawatir tradisi kurban berubah jadi ritual tahunan minim standar kesehatan. Dari jeroan tercampur hingga lokasi penyembelihan seadanya, publik diminta tak lagi menganggap higienitas sebagai pelengkap acara."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Iduladha2026 #KurbanHigienis #Kementan #KurbanSehat #BeritaNasional

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال