Isu Sunni-Syiah Dipolitisasi, Fauzi Isman Serukan Dialog dan Persatuan Umat

GalaPos ID, Bogor.
Perbedaan mazhab di tubuh umat Islam kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya polarisasi dan propaganda sektarian di berbagai negara.
Mantan tahanan politik sekaligus narapidana politik, Fauzi Isman, mengingatkan agar hubungan Sunni dan Syiah tidak dirusak oleh kepentingan politik maupun fanatisme sempit yang berpotensi memecah persatuan umat.

Fauzi Isman Soroti Polarisasi Sunni-Syiah dan Bahaya Fanatisme Sempit
Di tengah krisis global, umat Islam kadang lebih mudah ribut soal perbedaan mazhab daripada bersatu melawan ketidakadilan. Foto: ahlulbaitindonesia

"Perbedaan mazhab seharusnya jadi ruang diskusi ilmiah, bukan bahan bakar konflik politik berkepanjangan."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Fauzi Isman menilai hubungan Sunni dan Syiah kerap dipolitisasi demi kepentingan geopolitik tertentu.
2. Ia mengkritik pendekatan fanatisme sempit yang mudah melabeli perbedaan mazhab sebagai sesat atau kafir.
3. Fauzi menyerukan penguatan dialog, ukhuwah Islamiyah, dan solidaritas umat terhadap isu kemanusiaan global.


Dalam pernyataannya di Bogor, Jawa Barat, 15 Mei 2026, Fauzi Isman menyampaikan keprihatinan terhadap meningkatnya ketegangan antara kelompok Sunni dan Syiah yang menurutnya dipengaruhi intervensi ideologi Wahabi dengan pendekatan keagamaan yang dinilai kaku dan eksklusif.

Menurut Fauzi, sejarah Islam sejak awal telah dibangun di atas keberagaman mazhab, tradisi keilmuan, dan perbedaan pemikiran. Namun situasi berubah setelah Revolusi Islam Iran di bawah kepemimpinan Ruhollah Khomeini pada 1979, ketika isu Sunni dan Syiah mulai dipolitisasi dalam konteks geopolitik kawasan Timur Tengah.

“Ketika Imam Khomeini secara tegas menyatakan Israel sebagai musuh karena penjajahan dan penindasan terhadap bangsa Palestina, sejak saat itu pula muncul berbagai upaya untuk memecah belah umat Islam melalui propaganda sektarian,” ujar Fauzi Isman, dalam keterangan yang diterima GalaPos ID, Sabtu, 16 Mei 2026.

Baca juga:
Di Balik Senyum Xi dan Trump: Perang Dagang Belum Benar-Benar Usai

Ia menilai sebagian kelompok Wahabi berupaya mengeluarkan Syiah dari bagian Islam melalui pendekatan tekstual yang minim ruang dialog ilmiah. Menurutnya, pola tersebut bertentangan dengan tradisi intelektual Islam yang selama berabad-abad menghargai ijtihad, penggunaan akal, dan keberagaman pandangan.
 
“Islam tidak dibangun di atas kebencian sesama Muslim. Islam dibangun dengan ilmu, akhlak, dan penggunaan akal yang jernih. Jika setiap perbedaan langsung dianggap sesat atau kafir, maka yang rusak bukan hanya persatuan umat, tetapi juga citra Islam itu sendiri,” tegasnya.

Fauzi juga mengkritik pola keberagamaan yang menutup ruang nalar kritis dan dialog terbuka. Menurutnya, konflik Sunni dan Syiah di berbagai wilayah sering kali tidak sepenuhnya dipicu ajaran agama, melainkan dimanfaatkan dalam perebutan pengaruh politik dan geopolitik internasional.

“Umat Islam harus berani menggunakan akal sehat dan hati nurani dalam melihat hubungan Sunni dan Syiah. Banyak konflik yang terjadi bukan murni karena ajaran agama, tetapi karena kepentingan politik geopolitik yang memanfaatkan sentimen mazhab,” katanya.
 
Fauzi Isman: Persatuan Sunni dan Syiah Jangan Dirusak Kepentingan Politik
Serangan Israel di Jalan Raya Beirut-Sidon Menewaskan Keluarga Berempat — Termasuk Dua Bayi — di Antara Setidaknya 8 Orang yang Tewas. Foto X: dina_sulaeman

 
 
Ia mengajak umat Islam kembali mengedepankan ukhuwah Islamiyah, toleransi internal antarmazhab, dan solidaritas terhadap isu kemanusiaan global, khususnya perjuangan rakyat Palestina.


“Musuh utama umat bukanlah sesama Muslim yang berbeda mazhab, melainkan penjajahan, ketidakadilan, kemiskinan, dan perpecahan yang sengaja dipelihara demi kepentingan politik tertentu,” tambah Fauzi Isman.

Di tengah meningkatnya polarisasi identitas di media sosial dan ruang publik, pernyataan ini menjadi pengingat bahwa perbedaan mazhab bukan hal baru dalam sejarah Islam. Namun, ketika perbedaan terus dipelihara sebagai alat politik dan propaganda, yang dipertaruhkan bukan hanya persatuan umat, melainkan juga stabilitas sosial dan citra Islam di mata dunia.

Fauzi Isman pun menyerukan agar ruang dialog Sunni dan Syiah terus diperkuat demi menjaga persatuan umat Islam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

 

 

Baca juga:
Dana Rakyat Tak Boleh Bocor, Gus Ipul Tantang Mafia Bansos di Kemensos

"Saat dunia menghadapi kemiskinan dan penjajahan, sebagian umat masih sibuk memperdebatkan siapa yang paling benar dalam mazhab."

"Di tengah krisis global, umat Islam kadang lebih mudah ribut soal perbedaan mazhab daripada bersatu melawan ketidakadilan."

"Fanatisme sempit terus dipelihara, seolah musuh terbesar umat adalah sesama Muslim yang berbeda pandangan."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #SunniSyiah #FauziIsman #PersatuanUmat #Islam #Palestina

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال