Hunian Hotel Anjlok, Industri Pariwisata Senggigi Tertekan

GalaPos ID, Lombok Barat.
Penurunan tingkat hunian hotel di kawasan Senggigi, Lombok Barat, mulai memicu kekhawatiran serius terhadap potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor perhotelan.
Pelaku industri memperingatkan, jika okupansi bertahan di bawah 40 persen dalam waktu lama, langkah pengurangan tenaga kerja bisa menjadi pilihan yang sulit dihindari.

Hunian Hotel Anjlok, Industri Pariwisata Senggigi Tertekan
Okupansi hotel Mataram sempat jatuh ke 20 persen. Event nasional kini jadi tumpuan utama. Foto: RS

"Okupansi hotel Senggigi melemah. Jika terus di bawah 40 persen, PHK disebut sulit dihindari."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Okupansi hotel Senggigi turun, batas kritis 40 persen jadi indikator risiko PHK
2. Industri bertahan dengan efisiensi, ekspansi dan investasi tertahan
3. Tekanan ekonomi global jadi faktor utama melemahnya sektor perhotelan


Ketua Asosiasi Hotel Senggigi yang juga General Manager Holiday Resort Lombok, I Ketut Murtajaya Kusuma, menegaskan kondisi tersebut bukan sekadar spekulasi.

“Jika tingkat hunian hotel terus berada di bawah 40 persen dalam waktu lama, tentu akan sangat berat bagi industri untuk bertahan. Risiko pengurangan tenaga kerja atau PHK bisa menjadi langkah yang sulit dihindari,” ujar I Ketut Murtajaya Kusuma, Senin, 4 Mei 2026.

Saat ini, rata-rata okupansi hotel di Senggigi masih berada di kisaran 50 persen. Hotel berbasis MICE mencatat hunian sekitar 40 persen, sementara hotel leisure relatif lebih stabil di atas 50 persen. Angka ini memang belum masuk zona krisis, tetapi belum cukup kuat untuk menopang pertumbuhan industri.

Baca juga:
Gratis! Pelatihan Bahasa Inggris untuk Ojol hingga UMKM di Pare Kediri

Pelaku usaha kini cenderung menahan diri. Ekspansi bisnis dan investasi baru nyaris tidak dilakukan. Fokus utama bergeser pada upaya bertahan.

“Secara umum kondisi Senggigi masih relatif stabil, tetapi belum sepenuhnya pulih. Saat ini pelaku usaha lebih fokus menjaga keberlangsungan operasional dibanding melakukan ekspansi,” tambahnya.

Tekanan ekonomi global menjadi faktor utama yang membayangi sektor ini. Ketergantungan tinggi pada wisatawan dan kegiatan bisnis membuat industri perhotelan rentan terhadap gejolak eksternal.

Sebagai respons, strategi efisiensi diterapkan secara menyeluruh. Pengeluaran ditekan, anggaran dievaluasi, dan operasional disesuaikan dengan pendapatan yang menurun.

“Penghematan menjadi langkah utama. Kami melakukan evaluasi pada seluruh pos anggaran, menekan pengeluaran, dan menyesuaikan biaya operasional dengan kondisi pendapatan yang saat ini menurun,” jelas Ketut.

Senggigi di Ujung Waspada: Okupansi Turun, PHK Mengancam
Dinas Pariwisata Mataram mengandalkan event nasional untuk mengangkat okupansi hotel yang tertekan low season dan Ramadan. Foto: RS

 

Meski masih bertahan, kondisi ini menyiratkan sinyal peringatan dini. Tanpa intervensi atau perbaikan signifikan pada permintaan pasar, industri perhotelan Senggigi berpotensi memasuki fase penyesuaian yang lebih keras—termasuk pengurangan tenaga kerja.

Pelaku industri kini berharap pemulihan ekonomi global dapat segera terjadi agar sektor pariwisata kembali bergerak dan memberikan kepastian bagi keberlangsungan usaha serta lapangan kerja.

 

Baca juga:
Langkah-Langkah Produksi Siaran Pers Profesional

"Penurunan okupansi hotel di Senggigi memicu kekhawatiran PHK. Industri perhotelan kini bertahan di tengah tekanan ekonomi global dan minimnya ekspansi."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #PariwisataNTB #HotelSenggigi #AncamanPHK #EkonomiGlobal #IndustriPariwisata

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال