FKS Group dan Pelindo Dorong UMKM Surabaya Naik Kelas Lewat Olahan Kedelai

GalaPos ID, Surabaya.
Di tengah menjamurnya program pemberdayaan UMKM yang kerap berhenti di pelatihan seremonial, kolaborasi FKS Group dan PT Pelindo Multi Terminal mencoba mengambil jalur berbeda: mendampingi pelaku usaha kecil hingga benar-benar bisa masuk pasar modern.
Ketika harga hidup makin fermentasi, tempe justru dipaksa naik kelas demi menyelamatkan ekonomi keluarga Surabaya.

FKS Group dan Pelindo Dorong UMKM Surabaya Naik Kelas Lewat Olahan Kedelai
Harga bahan pokok yang bikin dompet UMKM megap-megap, pelatihan tempe dan olahan kedelai kini justru jadi “senjata ekonomi” baru warga Surabaya. FKS Group dan Pelindo Multi Terminal mencoba membuktikan bahwa UMKM tak cukup cuma disuruh semangat, tapi juga perlu akses pasar, legalitas, dan pendampingan nyata. Foto: istimewa

"Di negeri yang UMKM-nya sering diminta “naik kelas” tanpa tangga, program pendampingan ini mencoba memberi pegangan nyata, bukan sekadar seminar dan foto seremoni."

Baca juga:

Gala Poin:
1. FKS Group dan Pelindo Multi Terminal memperluas program pemberdayaan UMKM pangan kedelai di Surabaya dengan menyasar lebih dari 100 ibu rumah tangga.
2. Program tidak hanya fokus pada pelatihan produksi, tetapi juga legalitas usaha, kemasan, pemasaran, hingga akses pasar modern.
3. Pendampingan UMKM dinilai lebih relevan dibanding program seremonial karena menghasilkan dampak ekonomi nyata dan peningkatan pendapatan kelompok binaan.


Program pemberdayaan masyarakat yang memasuki tahap kedua ini menyasar lebih dari 100 ibu rumah tangga di Kelurahan Tenggulunan, kawasan Teluk Lamong, Surabaya. Fokusnya bukan sekadar mengajari cara membuat produk, tetapi juga membangun daya saing UMKM berbasis pangan kedelai agar mampu bertahan di tengah kompetisi pasar yang makin ketat.

Kick-off program yang digelar pada 16 Mei 2026 bahkan diikuti lebih dari 150 peserta. Langkah ini dinilai relevan dengan kondisi ekonomi Surabaya yang terus tumbuh, namun masih menyisakan tantangan besar bagi pelaku UMKM kecil untuk berkembang secara mandiri.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya, ekonomi Surabaya tumbuh 5,87 persen pada 2025. Sektor perdagangan dan industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan tersebut. Di sisi lain, jumlah UMKM di Surabaya kini telah menembus lebih dari 106 ribu unit usaha.

Namun pertumbuhan jumlah UMKM tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kualitas usaha. Banyak pelaku usaha kecil masih terjebak pada persoalan klasik: minim legalitas, lemahnya pemasaran, hingga keterbatasan akses pasar modern.'

Baca juga:
Gen Z hingga Pegawai Disbud Makassar Ramaikan Wisata Alam Lembah Ramma

Melalui program ini, peserta mendapatkan pelatihan membuat tempe fresh higienis sesuai standar halal, pengembangan produk inovasi berbasis kedelai, pembukuan sederhana, desain kemasan, hingga pendampingan pengurusan legalitas usaha seperti PIRT dan sertifikasi halal.
 
Tak berhenti di pelatihan dasar, peserta tahap pertama juga dilibatkan sebagai trainer melalui skema Training of Trainers (ToT). Model ini dinilai penting agar transfer pengetahuan tidak berhenti ketika program selesai.

VP of ESG FKS Group, Beatrice Susanto, menegaskan bahwa program ini dirancang untuk membuka peluang ekonomi yang lebih luas, khususnya bagi perempuan pelaku UMKM.

“Melalui FKS Empower, kami ingin menghadirkan lebih dari sekadar pelatihan. Program ini kami rancang sebagai ruang bertumbuh bagi para peserta untuk memperkuat keterampilan, membangun kepercayaan diri dan mengembangkan usaha yang berkelanjutan. Kami percaya, ketika perempuan diberi akses terhadap pengetahuan, jejaring dan peluang, mereka dapat menjadi penggerak perubahan yang membawa dampak positif bagi keluarga, komunitas dan lingkungan sekitarnya,” ujar Beatrice, dalam keterangan yang diterima GalaPos ID, Minggu, 17 Mei 2026.
Pelatihan Saja Tak Cukup, FKS dan Pelindo Kawal UMKM Surabaya Sampai Legalitas
Pelatihan Saja Tak Cukup, FKS dan Pelindo Kawal UMKM Surabaya Sampai Legalitas

Hal senada disampaikan VP TJSL Pelindo Multi Terminal, Zulhendri. Menurutnya, program ini menjadi bagian dari komitmen BUMN untuk mendorong ekonomi masyarakat sekitar wilayah operasional perusahaan.

“Program ini menjadi wujud nyata kepedulian kami sebagai insan BUMN Pelindo Group terhadap pengembangan UMKM di Surabaya sebagai bagian dari wilayah kerja kami, sekaligus menjalankan prinsip berkelanjutan, sehingga komunitas yang telah mendapat manfaat dapat turut serta memberi inovasi dan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitarnya masing-masing,” ujar Zulhendri.

Kolaborasi kedua perusahaan sebenarnya telah berjalan sejak 2024. Pada tahap pertama, program difokuskan pada empat wilayah sekitar Teluk Lamong, Gresik, yakni Kelurahan Romokalisari, Tambak Osowilangun, Tambak Sarioso, dan Desa Karangkiring.

Sebanyak 60 ibu rumah tangga mendapatkan pendampingan selama satu tahun. Hasilnya, total pendapatan kelompok tercatat mencapai lebih dari Rp100 juta.

Baca juga:
Jakarta Bidik Jadi Kota Sinema Asia, DKI Gandeng Investor Film Global di Cannes 


Berbagai produk olahan kedelai juga berhasil dikembangkan, mulai dari tempe fresh, keripik tempe sagu, susu kedelai, brownies tempe, hingga produk turunan lainnya.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menyebut program ini sejalan dengan target Pemerintah Kota Surabaya yang pada 2026 menargetkan 5.250 UMKM mendapatkan intervensi berupa pelatihan, pemasaran, pendampingan, hingga legalitas produk.

“Apresiasi setinggi-tingginya untuk kolaborasi strategis antara PT Pelindo Multi Terminal dan FKS Group, yang didampingi oleh PT Sahabat Investasi Indotama atau Social Investment Indonesia.

Inilah bukti nyata sinergi antara dunia usaha dan pemberdayaan masyarakat. Harapannya adalah melalui dorongan inovasi produk yang dilakukan, produk tempe, tahu atau olahan kedelai lainnya yang berasal dari lokasi binaan memiliki nilai tambah yang tinggi dan dapat berdaya saing global atau go internasional,” kata Eri.

Baca juga:
Indonesia-Rusia Perkuat Diplomasi Timur Tengah, Palestina Jadi Fokus Pembahasan 


Bagi peserta UMKM, dampak program dirasakan langsung dalam pengelolaan usaha sehari-hari. Salah satu peserta, Dessy Intan Normalasari, mengaku kini lebih memahami pentingnya legalitas dan kemasan produk.

“Dari program ini saya jadi belajar banyak hal yang sebelumnya belum pernah saya pahami, mulai dari cara mengelola usaha, membuat kemasan produk yang lebih menarik, sampai pentingnya legalitas usaha.

Pendampingannya juga terasa dekat dan mudah dipahami, jadi kami lebih percaya diri untuk mengembangkan usaha ke depannya,” kata Dessy.

Di tengah persaingan usaha yang makin keras, program semacam ini setidaknya memberi satu pelajaran penting: UMKM tidak cukup hanya diminta kreatif. Mereka juga membutuhkan akses, pendampingan nyata, dan keberpihakan agar benar-benar bisa naik kelas, bukan sekadar jadi angka statistik pertumbuhan ekonomi.

 

 

Baca juga:
Jasa Publikasi Siaran Pers, Solusi Efektif Komunikasi dengan Publik

"Di tengah harga bahan pokok yang bikin dompet UMKM megap-megap, pelatihan tempe dan olahan kedelai kini justru jadi “senjata ekonomi” baru warga Surabaya. FKS Group dan Pelindo Multi Terminal mencoba membuktikan bahwa UMKM tak cukup cuma disuruh semangat, tapi juga perlu akses pasar, legalitas, dan pendampingan nyata."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #UMKMSurabaya #EkonomiKerakyatan #Pelindo #FKSGroup #UMKMNaikKelas

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال