GalaPos ID, Makassar.
Suasana kebersamaan mewarnai perjalanan pendakian dan wisata alam yang dilakukan sejumlah staf Dinas Kebudayaan Kota Makassar bersama mahasiswa lintas kampus di kawasan Lembah Ramma, Kabupaten Gowa, pada 14–15 Mei 2026.
Sebuah pengingat bahwa kebersamaan di alam kadang jauh lebih sehat daripada sekadar diskusi panjang di ruang ber-AC yang ujungnya “ditindaklanjuti nanti”.
"Saat banyak orang sibuk healing hanya untuk konten media sosial, rombongan Disbud Makassar dan mahasiswa justru benar-benar naik gunung—lengkap dengan jalur licin, lumpur, dan napas yang lebih jujur daripada caption Instagram."
Baca juga:
- Indonesia-Rusia Perkuat Diplomasi Timur Tengah, Palestina Jadi Fokus Pembahasan
- Libur Panjang Ancol Diserbu 73 Ribu Wisatawan, Pantai Murah Jadi Pelarian Warga
- Perbedaan Data Hotspot di Sarolangun Jadi Alarm Awal Musim Kemarau 2026
Gala Poin:
1. Staf Dinas Kebudayaan Makassar dan mahasiswa lintas kampus melakukan pendakian bersama ke Lembah Ramma.
2. Jalur via Panaikang semakin populer di kalangan pendaki muda karena panorama alam dan akses menuju Danau Slank.
3. Kegiatan menjadi ajang mempererat silaturahmi sekaligus menikmati wisata alam di tengah rutinitas kerja dan kuliah.
Kegiatan yang berlangsung saat libur tersebut diikuti staf dari berbagai bidang di Dinas Kebudayaan Kota Makassar, mulai dari Cagar Budaya, Kesenian, hingga bagian Umum dan Kepegawaian. Mereka turut didampingi mahasiswa dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Negeri Makassar (UNM), dan Politeknik STIA LAN Makassar yang sebelumnya pernah menjalani program magang di instansi tersebut.
Rombongan dipimpin oleh Aiman Ma’ruf selaku ketua perjalanan. Pendakian dimulai pada Kamis siang melalui jalur Lembah Ramma via Panaikang, salah satu jalur yang belakangan semakin populer di kalangan pendaki muda dan generasi Gen Z.
Selain menyuguhkan panorama pegunungan yang masih asri, jalur tersebut juga menjadi akses menuju kawasan Danau Slank yang dikenal memiliki pemandangan alam menarik dan kerap menjadi destinasi favorit para pendaki.
Baca juga:
Banjir dan Longsor Terjang Bungo, Ribuan Warga Mengungsi
“Capeknya terbayar karena suasana alamnya bagus dan perjalanan ramai-ramai jadi lebih seru,” ujarnya.
Kegiatan ini bukan sekadar wisata alam atau olahraga pendakian. Di tengah kesibukan rutinitas kantor dan aktivitas kampus, perjalanan ke Lembah Ramma menjadi ruang sederhana untuk mempererat silaturahmi lintas generasi dan latar belakang.
Fenomena jalur pendakian yang kini ramai diminati generasi muda juga menunjukkan perubahan cara masyarakat mencari hiburan. Jika dulu akhir pekan identik dengan pusat perbelanjaan atau kafe, kini banyak anak muda mulai memilih alam terbuka sebagai tempat “kabur” dari kepenatan aktivitas harian.
![]() |
| Jalur via Panaikang semakin populer di kalangan pendaki muda karena panorama alam dan akses menuju Danau Slank. Foto: istimewa |
Namun di balik tren pendakian yang makin populer, tantangan menjaga kelestarian alam juga ikut mengintai. Sebab, gunung dan lembah bukan sekadar lokasi swafoto, melainkan ruang alam yang tetap membutuhkan kesadaran menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Baca juga:
Di Balik KKN Mahasiswa: LPJ dan Publikasi Jadi Sorotan Kampus
"Di tengah budaya kerja yang sering akrab dengan layar laptop dan grup WhatsApp tanpa henti, perjalanan ke Lembah Ramma jadi cara sederhana untuk mengingat bahwa manusia ternyata masih bisa akrab tanpa harus kirim stiker “semangat pagi”."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #LembahRamma #Makassar #PendakianGunung #WisataAlam #GenZTravel
.jpg)
.jpg)
.jpg)