GalaPos ID, Bekasi.
Tragedi tabrakan kereta yang menelan korban jiwa dan luka-luka di Bekasi memicu sorotan tajam terhadap sistem keselamatan transportasi publik, khususnya penempatan gerbong khusus perempuan.
Ketua Umum Gerakan Wanita Sejahtera (GWS), Giwo Rubianto Wiyogo, menilai kebijakan tersebut perlu dikaji ulang karena berpotensi menambah risiko dalam situasi darurat.
"Tragedi tabrakan kereta di Bekasi membuka celah serius dalam sistem keselamatan—apakah gerbong khusus perempuan justru menempatkan penumpang pada risiko lebih besar?"
Baca juga:
- Asing Net Sell Rp2,3 Triliun, Saham BBCA Tertekan
- Evakuasi Dramatis Tragedi Bekasi Timur, Sistem Kereta Dipertanyakan
- Ridwan Bae Soroti Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan Kereta Maut
Gala Poin:
1. Posisi gerbong perempuan di ujung rangkaian dinilai berpotensi meningkatkan risiko saat kecelakaan.
2. GWS mendesak evaluasi menyeluruh terhadap SOP, tata letak gerbong, dan sistem evakuasi.
3. Prosedur santunan korban diminta dipermudah sebagai bentuk tanggung jawab dan empati.
Insiden yang melibatkan penumpang dalam jumlah besar ini menjadi perhatian publik, terutama karena adanya perempuan yang berada di gerbong khusus. Dalam kondisi kecelakaan, posisi gerbong dinilai menjadi faktor krusial yang dapat memengaruhi tingkat keselamatan penumpang.
Giwo menyoroti bahwa penempatan gerbong perempuan di bagian ujung rangkaian kereta bukan hanya persoalan teknis, melainkan menyangkut keselamatan dasar yang harus dijamin negara dan operator transportasi.
“Keselamatan itu harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai kebijakan yang dibuat untuk melindungi justru menimbulkan kerentanan baru,” tegas Giwo, dalam keterangan, Selasa 28 April 2026.
Menurutnya, perlindungan terhadap perempuan tidak cukup hanya melalui penyediaan ruang khusus, tetapi harus diiringi dengan kajian menyeluruh terhadap aspek keamanan.
Baca juga:
OIC Bangun Ekosistem Wellness Premium, Solusi Tren Gaya Hidup
Ia menilai kebijakan yang tidak berbasis mitigasi risiko justru bisa menjadi bumerang bagi kelompok yang ingin dilindungi.
Lebih jauh, Giwo mendesak evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional prosedur (SOP), termasuk tata letak gerbong dan mekanisme evakuasi saat keadaan darurat. Ia menekankan pentingnya sistem yang adaptif terhadap potensi kecelakaan.
“Ini bukan hanya soal teknis, tetapi soal keberpihakan pada keselamatan manusia. Perempuan harus merasa aman, bukan justru berada pada posisi yang lebih berisiko,” tuturnya.
![]() |
| Evakuasi dramatis korban kecelakaan kereta di Bekasi Timur mengungkap fakta tragis sekaligus celah besar dalam sistem transportasi nasional. Foto: istimewa |
Selain aspek keselamatan, ia juga menyoroti perlunya kemudahan akses bagi korban dalam mendapatkan haknya, seperti santunan atau jaminan lainnya. Prosedur yang berbelit dinilai hanya akan menambah beban bagi korban dan keluarga.
Desakan ini menjadi pengingat bahwa tragedi transportasi tidak hanya menyisakan duka, tetapi juga tanggung jawab besar untuk melakukan pembenahan sistemik demi keselamatan publik ke depan.
Baca juga:
Sendang Sreto Lamongan, Destinasi Sederhana yang Bikin Betah
"Tragedi tabrakan kereta di Bekasi memicu kritik terhadap posisi gerbong perempuan yang dinilai berisiko. GWS mendesak evaluasi total sistem keselamatan transportasi publik."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #KeselamatanTransportasi #KeretaApi #PerlindunganPerempuan
,%20Giwo%20Rubianto%20Wiyogo.jpeg)
.jpeg)