Bunuh Diri Anak di Indonesia Meningkat, Heru Tjahjono Saran Solusi Psikologis

GalaPos ID, Jakarta.
Kasus bunuh diri pada anak di Indonesia terus mencuri perhatian publik, dengan data terbaru dari Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin, yang mencatat setidaknya ada empat kasus bunuh diri anak pada awal tahun 2026.
Kasus ini terjadi di berbagai wilayah, termasuk Nusa Tenggara Timur (NTT), Jawa Barat, dan Kalimantan Timur.

Strategi Pencegahan Bunuh Diri Anak: Konseling di Puskesmas dan Sekolah Jadi Kunci
Anggota Komisi IX DPR RI, Heru Tjahjono, menyoroti tingginya kasus bunuh diri pada anak di Indonesia, dengan data menunjukkan angka tertinggi di Asia Tenggara. Foto: istimewa

"Angka bunuh diri anak di Indonesia semakin memprihatinkan, dengan data menunjukkan kasus bunuh diri anak tertinggi di Asia Tenggara. Heru Tjahjono, Anggota Komisi IX DPR RI, mengusulkan serangkaian langkah strategis, termasuk peningkatan layanan konseling di Puskesmas dan sekolah untuk mencegah tragedi ini semakin meluas. Bagaimana pemerintah dapat menanggulangi masalah serius ini?"

Baca juga:

Gala Poin:
1. Tingginya Kasus Bunuh Diri Anak di Indonesia: Kasus bunuh diri anak terus meningkat, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan angka bunuh diri anak tertinggi di Asia Tenggara.
2. Usulan Penguatan Konseling di Puskesmas dan Sekolah: Heru Tjahjono mengusulkan peningkatan layanan konseling di Puskesmas dan sekolah serta deteksi dini masalah kesehatan mental pada anak.
3. Pentingnya Perlindungan Anak dan Dukungan Keluarga: Heru menekankan perlunya pengasuhan positif, penghapusan stigma, dan perlindungan anak dari kekerasan untuk mengurangi kasus bunuh diri.


Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga menunjukkan tren yang memprihatinkan, dengan lebih dari 20 kasus bunuh diri anak setiap tahunnya. Pada 2023 tercatat 46 kasus, pada 2024 sebanyak 43 kasus, dan pada 2025 ada 26 kasus.

Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan kasus bunuh diri anak tertinggi di Asia Tenggara.

Merespons lonjakan kasus ini, Anggota Komisi IX Fraksi Partai Golkar DPR RI, Heru Tjahjono, mengusulkan perlunya penguatan deteksi dini kesehatan mental anak dan remaja serta peningkatan layanan konseling di Puskesmas dan sekolah-sekolah.

"Pencegahan bunuh diri pada anak harus berfokus pada penguatan integrasi sosial, mengurangi isolasi, tekanan lingkungan, dan stigma yang mengarah pada depresi," ujar Heru Tjahjono dalam rilisnya, Senin, 16 Maret 2026.

Penguatan Dukungan Sosial untuk Anak
Heru menekankan bahwa strategi utama pencegahan harus melibatkan dukungan keluarga, sekolah, serta membangun relasi suportif dengan orang dewasa yang dipercaya oleh anak.

Baca juga:
Di Tengah Tekanan Ekonomi Kota, Aksi Solidaritas Anak Muda Tebet Bantu Anak Yatim 


Penghapusan stigma seputar masalah kesehatan mental dan penciptaan lingkungan yang aman dan inklusif juga menjadi hal penting.

"Kebijakan yang harus diambil adalah memperkuat pengasuhan positif dan perlindungan anak, terutama dari kekerasan yang kerap memicu depresi," tambah Heru.

Menurut Heru, Puskesmas sebagai pusat layanan kesehatan masyarakat yang terdekat dengan masyarakat, memiliki peran yang sangat strategis.

Ia mengusulkan penambahan tenaga konseling di Puskesmas dan sekolah-sekolah di seluruh Indonesia untuk menangani masalah kesehatan mental anak dan remaja.

"Kemenkes harus memperluas skrining kesehatan jiwa pada anak dan remaja dan mendorong deteksi dini perundungan dan tekanan psikologis di sekolah-sekolah," ujar Heru, yang juga mantan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur.

Heru Tjahjono: Pemerintah Harus Perkuat Dukungan Kesehatan Mental Anak untuk Cegah Bunuh Diri
Kasus AMK yang terungkap di Pasar Kebayoran Lama menyoroti kerentanan anak dan peran negara serta masyarakat dalam menjamin perlindungan hak-hak anak yang seharusnya tidak hanya di atas kertas. Foto: Kementerian PPPA

 

Membangun Infrastruktur untuk Dukungan Psikologis
Selain itu, Heru juga meminta pemerintah untuk menyiapkan hotline krisis kesehatan jiwa dan menambah jumlah psikolog klinis di Puskesmas dan sekolah, khususnya di daerah dengan keluarga kurang mampu.

Menurutnya, kondisi keluarga yang menghadapi tekanan ekonomi menjadi salah satu pemicu masalah kesehatan mental pada anak. Ia menekankan pentingnya peran keluarga dalam pengasuhan positif dan perlindungan anak dari kekerasan.

"Ekonomi keluarga yang tertekan seringkali berdampak langsung pada kondisi mental anak. Oleh karena itu, pemerintah harus memberikan bantuan sosial tanpa diskriminasi kepada keluarga yang membutuhkan, agar tekanan ekonomi tidak menjadi beban tambahan bagi anak-anak," ujar Heru.

Baca juga:
Simbol Budaya Melayu-Islam, Air Mancur Cempako Telok Ikon Baru Palembang

Perlunya Reformasi Sistem Perlindungan Anak
Heru juga menegaskan bahwa untuk menurunkan angka kasus bunuh diri anak, penting untuk memperbaiki sistem perlindungan anak secara keseluruhan.

Ia mendesak agar akses terhadap bantuan sosial dipercepat, agar keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi bisa mendapatkan dukungan yang diperlukan.

"Langkah-langkah ini harus diambil untuk mencegah bertambahnya jumlah kasus bunuh diri anak dan memastikan anak-anak mendapatkan perlindungan yang maksimal," kata Heru menutup pernyataannya.

 

Baca juga:
Bazar Ramadan Murah Kodim 1714 Puncak Jaya Diserbu Warga

"Anggota Komisi IX DPR RI, Heru Tjahjono, menyoroti tingginya kasus bunuh diri pada anak di Indonesia, dengan data menunjukkan angka tertinggi di Asia Tenggara. Ia mengusulkan peningkatan konseling di Puskesmas dan sekolah, deteksi dini kesehatan mental, dan edukasi pengasuhan positif untuk mengurangi angka bunuh diri anak. Langkah ini diharapkan dapat mengatasi isolasi sosial dan tekanan psikologis yang menjadi faktor pemicu."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #PencegahanBunuhDiri #KesehatanMentalAnak #PerlindunganAnak

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال