GalaPos ID, Kupang.
Program revitalisasi pendidikan yang dijalankan pemerintah mulai menunjukkan hasil nyata di SD Inpres Naimata, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Dengan anggaran sebesar Rp3,1 miliar, sekolah yang selama bertahun-tahun bergulat dengan keterbatasan ruang kelas kini mampu mengakhiri sistem belajar tiga shift.
Namun, setelah persoalan infrastruktur mulai teratasi, tantangan berikutnya adalah memastikan peningkatan kualitas pendidikan berjalan seiring dengan pembangunan fisik.
"Anak-anak akhirnya tak lagi berebut jadwal belajar. Kini yang dinanti bukan sekadar ruang baru, melainkan masa depan yang benar-benar berubah."
Baca juga:
- Aklamasi Tanpa Lawan, Yoseph Dasi Djawa Nahkodai PA GMNI NTT hingga 2031
- Hari Anak Nasional 2026, Bidakara Hotel Perkuat Transformasi Hotel Ramah Keluarga
- Desa Bonto Marannu Lokasi KKN-T Keamanan Pangan Unhas, Edukasi dan UMK
Gala Poin:
1. Revitalisasi senilai Rp3,1 miliar menambah 13 ruangan baru dan tiga unit toilet ramah disabilitas di SD Inpres Naimata, Kota Kupang.
2. Program tersebut mengakhiri sistem belajar tiga shift sehingga seluruh kegiatan belajar mengajar kini berlangsung dalam satu shift.
3. Peningkatan fasilitas turut mendorong kenaikan jumlah siswa, sementara tantangan berikutnya adalah memastikan mutu pendidikan meningkat seiring pembangunan infrastruktur.
Kepala SD Inpres Naimata, Martinus Klau, mengatakan revitalisasi tersebut membawa perubahan besar terhadap fasilitas sekolah. Dari yang semula hanya memiliki enam ruang kelas, kini sekolah memperoleh tambahan 13 ruangan baru, terdiri atas 12 ruang belajar serta satu ruang kepala sekolah dan koordinator. Pemerintah Kota Kupang juga menambah lima ruang belajar.
Selain ruang kelas, sekolah memperoleh tiga unit toilet ramah disabilitas, masing-masing dilengkapi lima bilik, sebagai bagian dari peningkatan sarana pendukung.
Menurut Martinus, keberadaan fasilitas baru tersebut menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan nyaman bagi siswa maupun tenaga pendidik.
Dampak lainnya terlihat dari meningkatnya jumlah peserta didik yang mendaftar. Ketersediaan ruang belajar yang lebih memadai memungkinkan sekolah menerima lebih banyak siswa dibandingkan sebelumnya.
”Sekolah ini awal mulanya siswanya sedikit karena ruangan terbatas. Kemudian, di tahun 2025 ketika program ini hadir, sekolah ini memiliki siswa 539. Dan ruangan kami masih ada satu kelas yang kosong. Banyak anak murid yang dipindahkan di sini karena satu shift belajar,” terang Martinus, dalam keterangan yang diterima Rabu, 22 Juli 2026.
Baca juga:
Industri Event Tumbuh Pesat, SGU Buka Konsentrasi Event Management
”Sebelumnya kegiatan KBM diatur 3 shift, siswa juga terpaksa belajar di jam siang. Namun, dengan program revitalisasi, saat ini kami salah satu sekolah yang menggelar 1 shift belajar,” lanjutnya.
Perubahan ini menjadi salah satu indikator bahwa investasi pemerintah pada infrastruktur pendidikan dapat memberikan dampak langsung terhadap akses layanan pendidikan. Namun demikian, pembangunan gedung hanyalah langkah awal. Publik juga akan menilai keberhasilan program dari peningkatan kualitas pembelajaran, kompetensi guru, prestasi siswa, serta kemampuan sekolah mencetak lulusan yang lebih baik.
Revitalisasi sekolah menjadi fondasi penting, tetapi tujuan akhirnya tetap sama: memastikan setiap anak memperoleh pendidikan yang layak, bermutu, dan setara tanpa terhambat keterbatasan fasilitas.
Baca juga:
Muharram, Menara Peninsula Hotel Ajak Anak Yatim Menginap Lewat Program CSR
Gedung sekolah bisa dibangun dalam hitungan bulan, tetapi kualitas pendidikan hanya tumbuh jika ruang kelas diisi pembelajaran yang bermutu.
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #RevitalisasiPendidikan #SDInpresNaimata #PendidikanNTT #Kupang #SekolahBerkualitas

.jpg)