GalaPos ID, Kab. Bungo.
Bencana banjir dan tanah longsor melanda Kabupaten Bungo setelah curah hujan tinggi mengguyur wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir.
Dampaknya meluas hingga menerjang 14 kecamatan, merendam ribuan rumah warga, memutus akses jalan, dan memaksa ribuan warga mengungsi.
![]() |
| Saat hujan deras turun berhari-hari, warga Bungo lagi-lagi harus belajar bahwa rumah bisa berubah jadi kolam dalam semalam. Foto: istimewa |
"Sungai meluap, jalan putus, ribuan warga mengungsi. Bencana datang cepat, sementara solusi permanen masih sering terlambat."
Baca juga:
- Isu Sunni-Syiah Dipolitisasi, Fauzi Isman Serukan Dialog dan Persatuan Umat
- PKB 2026 Jadi Ajang Pembuktian Badung, Pemkab Siapkan Rp7 M untuk Duta Seni
- Kejurnas FORKI 2026: PP INKAI Tak Terbendung, Raih 8 Emas dan Juara Umum
Gala Poin:
1. Banjir dan longsor melanda 14 kecamatan di Kabupaten Bungo akibat curah hujan tinggi dan meluapnya dua sungai besar.
2. Sebanyak dua warga meninggal dunia, 1.436 rumah terendam, dan 5.624 jiwa mengungsi akibat bencana tersebut.
3. Warga masih bertahan di pengungsian karena trauma dan khawatir terjadi banjir susulan meski air mulai surut.
Di sejumlah titik, ketinggian air dilaporkan mencapai satu hingga dua meter. Aktivitas masyarakat lumpuh setelah banjir menutup jalan lingkungan hingga jalan kabupaten yang menghubungkan antarwilayah.
Kepala BPBD dan Kesbangpol Linmas Kabupaten Bungo, Zainadi, mengatakan hujan deras yang terjadi sejak malam 13 Mei hingga pagi hari memicu longsor di empat titik serta menyebabkan meluapnya Sungai Batang Bungo dan Batang Tebo.
“Curah hujan yang tinggi menyebabkan longsor di beberapa titik serta meluapnya sungai, sehingga banjir meluas di berbagai wilayah. Kami langsung menurunkan personel dan peralatan untuk melakukan evakuasi warga terdampak,” ujar Zainadi, dalam keterangan yang diterima GalaPos ID, Jumat, 16 Mei 2026.
Baca juga:
Kemen PPPA dan POGI Kampanyekan Vaksin HPV Gratis untuk Remaja Putri
Titik longsor dilaporkan terjadi di Dusun Empelu, Limbur Lubuk Mengkuang, Tanah Sepenggal Lintas, dan Pelepat. Material longsor sempat menghambat akses warga dan menyulitkan proses evakuasi di beberapa wilayah terdampak.
Salah seorang warga terdampak, Pinki, mengaku air datang secara tiba-tiba sehingga warga panik dan tidak sempat menyelamatkan harta benda mereka.
“Air datang sangat cepat, kami tidak sempat menyelamatkan banyak barang dan langsung mengungsi ke tempat yang lebih aman,” kata Pinki.
![]() |
| Di banyak daerah, banjir masih datang seperti agenda tahunan. Bedanya, kali ini ribuan warga Bungo yang harus menanggung akibatnya. Foto: istimewa |
Meski kondisi banjir mulai berangsur surut, sebagian warga masih bertahan di lokasi pengungsian. Trauma dan kekhawatiran akan banjir susulan membuat banyak keluarga belum berani kembali ke rumah masing-masing.
Bencana ini kembali memperlihatkan rapuhnya mitigasi banjir dan tata kelola lingkungan di sejumlah daerah rawan bencana. Di tengah cuaca ekstrem yang terus berulang setiap tahun, masyarakat kembali menjadi pihak yang paling terdampak ketika sungai meluap dan longsor datang tanpa peringatan memadai.
Publik kini menanti langkah konkret pemerintah daerah, tidak hanya dalam penanganan darurat, tetapi juga solusi jangka panjang agar bencana serupa tidak terus berulang setiap musim hujan tiba.
Baca juga:
Di Balik Senyum Xi dan Trump: Perang Dagang Belum Benar-Benar Usai
"Setiap musim hujan datang, warga kembali akrab dengan banjir dan pengungsian. Yang berubah hanya tinggi air dan jumlah korban."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #BanjirBungo #Longsor #BencanaAlam #BPBDBungo #Jambi
.jpeg)
.jpeg)