GalaPos ID, Jakarta.
Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat kembali mengguncang pasar energi global. Ancaman gangguan distribusi di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia, mendorong volatilitas harga dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas fiskal Indonesia.
"Ketegangan Iran–Amerika Serikat memicu lonjakan harga minyak dunia. DPR mendesak Pertamina memperkuat ketahanan energi nasional agar APBN 2026 dan daya beli rakyat tidak terpukul."
Baca juga:
- Air Putih Terlihat Jernih, Tapi Benarkah Aman?
- Lanud Sultan Hasanuddin Canangkan Zona Integritas Menuju WBK dan WBBK
- Prakiraan Cuaca Jakarta Akhir Pekan, Hujan Ringan–Sedang
Gala Poin:
1. Ketegangan Iran–Amerika Serikat memicu risiko lonjakan harga minyak dunia di atas asumsi APBN 2026.
2. Indonesia masih bergantung pada impor energi senilai sekitar US$15 miliar per tahun, rentan terhadap gejolak global.
3. DPR mendesak Pertamina memperkuat stok, diversifikasi impor, dan optimalisasi kilang domestik demi menjaga stabilitas nasional.
Dalam asumsi APBN 2026, harga minyak mentah Indonesia (ICP) dipatok sebesar US$70 per barel. Namun, eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong harga melampaui asumsi tersebut, bahkan mendekati US$80–100 per barel sebagaimana diproyeksikan sejumlah analis global.
Jika itu terjadi, tekanan terhadap subsidi energi, nilai tukar rupiah, hingga inflasi domestik dinilai tak terhindarkan.
Anggota Komisi VI DPR RI, Christiany Eugenia Paruntu, menegaskan langkah antisipatif harus segera diperkuat, terutama oleh Pertamina sebagai BUMN yang bertanggung jawab atas pengadaan dan distribusi energi nasional.
“Kita tidak boleh lengah. Stabilitas energi adalah fondasi stabilitas ekonomi nasional,” ujar Christiany Eugenia Paruntu, dalam keterangan yang diterima GalaPos ID, Senin, 2 Maret 2026, di Jakarta.
Baca juga:
Marak Pencurian di Batu Bara, Rumah Wartawan Kembali Disasar
Christiany mengingatkan, Indonesia masih mengimpor minyak mentah, BBM, dan LPG dengan nilai mencapai sekitar US$15 miliar atau setara lebih dari Rp250 triliun per tahun. Ketergantungan pada pasokan dari kawasan Timur Tengah membuat Indonesia sangat sensitif terhadap gejolak harga global.
Setiap kenaikan harga minyak mentah di atas asumsi APBN, kata dia, akan berdampak langsung pada peningkatan beban subsidi dan kompensasi energi. Dalam skenario harga melonjak, ruang fiskal berpotensi tergerus dan pemerintah menghadapi dilema antara menjaga stabilitas harga domestik atau menekan defisit anggaran.
Selain risiko fiskal, Christiany juga menyoroti aspek teknis pasokan. Ia menekankan pentingnya menjaga kecukupan stok dan kelancaran distribusi, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri saat konsumsi energi masyarakat meningkat signifikan.
![]() |
| Christiany Eugenia Paruntu desak PT Pertamina (Persero) memperkuat ketahanan energi di tengah gejolak global. Foto: istimewa |
Penguatan cadangan operasional, diversifikasi sumber impor, serta optimalisasi kilang domestik dinilai menjadi langkah strategis untuk memitigasi potensi gangguan pasokan akibat konflik global.
Menutup pernyataannya, Christiany Eugenia Paruntu menegaskan komitmennya di Komisi VI DPR RI untuk terus mengawal kebijakan ketahanan energi nasional.
Ia berharap pemerintah dan Pertamina dapat bersinergi menjaga stabilitas pasokan dan harga energi di Indonesia, sehingga masyarakat tetap terlindungi dari dampak gejolak geopolitik global dan tekanan ekonomi yang lebih luas.
Baca juga:
Siapa Lindi Fitriyana? Aktris dan Penyanyi yang Kini Jadi Istri Virgoun
"Ketegangan Iran dan Amerika Serikat memicu lonjakan harga minyak dunia dan berpotensi menekan APBN 2026. Anggota DPR RI Christiany Eugenia Paruntu mendesak Pertamina memperkuat ketahanan energi nasional guna menjaga stabilitas ekonomi dan pasokan domestik.
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #KetahananEnergi #HargaMinyakDunia #APBN2026 #Pertamina #Geopolitik

