GalaPos ID, Jakarta.
Ketika interaksi sosial kian bergeser ke ruang digital yang serba personal, sebuah inisiatif kultural mencoba mengembalikan makna kebersamaan ke ruang publik.
Luminesa bersama FILeM menghidupkan kembali tradisi layar tancap melalui kegiatan nonton bareng yang digelar pada 18–19 Maret 2026 di kawasan Petamburan III, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
"Di saat kebersamaan semakin tergantikan oleh layar ponsel, sebuah layar putih di ruang terbuka justru kembali menyatukan warga—menghidupkan empati, percakapan, dan rasa memiliki dalam kehidupan sosial."
Baca juga:
- Operasi Ketupat 2026 Berakhir, Korban Jiwa Turun 104 Orang
- Luminesa Hidupkan Literasi Nobar Layar Tancap Film Anak Karya Majid Majidi
- Risiko Tersembunyi AI: Manipulasi, Krisis, dan Disinformasi
Gala Poin:
1. Layar tancap digelar 18–19 Maret 2026 sebagai respons terhadap meningkatnya individualisme.
2. Film karya Majid Majidi digunakan sebagai medium literasi sosial dan empati.
3. Kegiatan ini menjadi ruang publik alternatif untuk membangun kebersamaan dan dialog sosial.
Kegiatan ini menghadirkan film-film karya sineas Iran Majid Majidi seperti Children of Heaven, The Color of Paradise, dan Sun Children.
Lebih dari sekadar hiburan, layar tancap ini menjadi ruang perjumpaan sosial—di mana warga duduk berdampingan, berbagi emosi, dan membangun kembali kohesi sosial yang perlahan memudar.
“Dalam narasi-narasi sederhana, Majidi menanamkan kepekaan dan semangat juang yang mengajarkan bahwa harapan dapat tumbuh bahkan di tengah keterbatasan. Literasi yang ditawarkan bukan hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional, sosial, dan spiritual,” tutur Dahlan sebagai penyelenggara nobar layar tancap film karya Majid Majidi, Kamis, 19 Maret 2026, lalu.
Film-film tersebut menampilkan potret kehidupan anak-anak dengan pendekatan yang jujur dan penuh empati.
Baca juga:
Ambisi Besar OpenAI, Ekspansi Masif di Tengah Tekanan Pasar AI
Kemiskinan tidak diposisikan sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai ruang refleksi tentang martabat manusia.
“Sepatu yang hilang dalam Children of Heaven menjadi simbol ketimpangan sekaligus solidaritas keluarga. Kebutaan dalam The Color of Paradise menjelma sebagai jalan menuju pencerahan batin. Sementara Sun Children menghadirkan kritik sosial yang tajam melalui kerja keras anak-anak yang berjuang dalam sistem yang mengekspoitasi mereka,” lanjutnya.
Pendekatan ini memperluas makna literasi—tidak sekadar membaca teks, tetapi juga membaca kehidupan dan realitas sosial secara lebih mendalam.
“Lebih dari sekadar pemutaran film, kegiatan ini adalah upaya membangun literasi publik yang hidup yang mendidik sekaligus menghibur dengan layar tancap,” ucap Dahlan mengenai tujuan pemutaran layer tancap.
Meski menghadirkan semangat kolektif, inisiatif ini tetap menghadapi tantangan besar: bagaimana mempertahankan ruang kebersamaan di tengah dominasi budaya digital yang cepat, instan, dan cenderung individualistik.
| Nobar layar tancap film karya Majid Majidi diputar di area lapangan terbuka di wilayah Petamburan III, Kelurahan Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Foto: istimewa. |
Namun demikian, Luminesa dan FILeM melihat kegiatan ini sebagai langkah awal. Layar tancap diharapkan menjadi pemantik ruang-ruang diskusi publik yang lebih luas, sekaligus mempertemukan beragam perspektif dalam masyarakat.
“Dari layar sederhana yang dipancang di ruang terbuka, diharapkan lahir kesadaran bahwa kebersamaan, empati, dan pemahaman adalah fondasi penting bagi kehidupan sosial yang lebih manusiawi,” tutup Dahlan.
Baca juga:
Peluang Bisnis Cleaning Service Melejit Saat Lebaran
"Luminesa dan FILeM menggelar layar tancap pada 18–19 Maret 2026 di Jakarta, menghadirkan film karya Majid Majidi sebagai medium membangun literasi, empati, dan solidaritas sosial."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #LayarTancap #LiterasiPublik #SinemaSosial #MajidMajidi #SolidaritasSosial