GalaPos ID, Jakarta.
Di tengah arus zaman yang semakin individualistik, ketika layar-layar pribadi menggantikan kebersamaan sosial, Luminesa bersama FILeM menghadirkan kembali sebuah tradisi yang nyaris terlupakan: layar tancap. Namun, ini bukan sekadar nostalgia visual, melainkan upaya menghidupkan kembali solidaritas, refleksi, dan kesadaran kolektif melalui sinema.
Layar tancap menjadi medium membangun kohesi dan kebersamaan sosial dengan berkumpul bersama, duduk berdampingan, dan kembali merasakan kehangatan berwarga negara.
| Luminesa menggelar nonton bareng layar tancap film Children of Heaven, Sun Children, dan Colour of Paradise karya sineas asal Iran, Majid Majidi. Foto:istimewa |
"Luminesa dan FILeM Hidupkan Literasi dan Solidaritas Lewat Nobar Layar Tancap Film Anak Karya Majid Majidi. Layar tancap menjadi wahana kegiatan literasi yang mendidik dan menghibur untuk masyarakat."
Baca juga:
Gala Poin:
1. Layar tancap dihidupkan kembali sebagai respon kultural terhadap fragmentasi sosial.
2. Sinema diposisikan sebagai alat membangun kesadaran sosial dan empati, bukan hanya hiburan.
3. Dalam kegiatan nonton bareng ini, diputar film-film Majid Majidi seperti Children of Heaven, The Color of Paradise, dan Sun Children yang menghadirkan potret kehidupan anak-anak dalam balutan kesederhanaan, kejujuran, dan kedalaman makna.
Film-film ini tidak hanya menyuguhkan cerita, tetapi menghadirkan literasi dalam arti yang luas. Literasi di sini bukan sekadar membaca teks, melainkan membaca kehidupan. Anak-anak diajak memahami dunia melalui empati, imajinasi, dan pengalaman batin.
“Dalam narasi-narasi sederhana, Majidi menanamkan kepekaan dan semangat juang yang mengajarkan bahwa harapan dapat tumbuh bahkan di tengah keterbatasan. Literasi yang ditawarkan bukan hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional, sosial, dan spiritual,” tutur Dahlan sebagai penyelenggara nobar layar tancap film karya Majid Majidi, Kamis, 19 Maret 2026.
Ada benang merah yang kuat dalam karya-karya tersebut: martabat manusia dalam kesederhanaan. Kemiskinan tidak dipertontonkan sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai ruang di mana nilai-nilai kemanusiaan diuji dan diteguhkan.
“Sepatu yang hilang dalam Children of Heaven menjadi simbol ketimpangan sekaligus solidaritas keluarga. Kebutaan dalam The Color of Paradise menjelma sebagai jalan menuju pencerahan batin. Sementara Sun Children menghadirkan kritik sosial yang tajam melalui kerja keras anak-anak yang berjuang dalam sistem yang mengekspoitasi mereka,” lanjutnya.
“Lebih dari sekadar pemutaran film, kegiatan ini adalah upaya membangun literasi publik yang hidup yang mendidik sekaligus menghibur dengan layar tancap,” ucap Dahlan mengenai tujuan pemutaran layer tancap.
Ke depan, Luminesa dan FILeM berharap kegiatan ini menjadi benih bagi tumbuhnya ruang-ruang diskusi yang lebih luas.
| Nobar layar tancap film karya Majid Majidi diputar di area lapangan terbuka di wilayah Petamburan III, Kelurahan Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Foto: istimewa. |
Film diharapkan mampu memantik kebersamaan dalam relasi sosial yang menghadirkan percakapan antarpenonton, mempertemukan perspektif, dan melahirkan makna baru dari pengalaman bersama.
“Dari layar sederhana yang dipancang di ruang terbuka, diharapkan lahir kesadaran bahwa kebersamaan, empati, dan pemahaman adalah fondasi penting bagi kehidupan sosial yang lebih manusiawi,” tutup Dahlan.
Layar tancap romantisme kultural yang harus dibangkitkan lagi.
BalasHapus