GalaPos ID, Jakarta.
Di tengah arus zaman yang semakin individualistik, ketika layar-layar pribadi menggantikan kebersamaan sosial, Luminesa bersama FILeM menghadirkan kembali sebuah tradisi yang nyaris terlupakan: layar tancap. Namun, ini bukan sekadar nostalgia visual, melainkan upaya menghidupkan kembali solidaritas, refleksi, dan kesadaran kolektif melalui sinema. Layar tancap menjadi medium membangun kohesi dan kebersamaan sosial dengan berkumpul bersama, duduk berdampingan, dan kembali merasakan kehangatan berwarga negara.
Luminesa menggelar nonton bareng layar tancap film Children of Heaven, Sun Children, dan Colour of Paradise karya sineas asal Iran, Majid Majidi. Foto:istimewa
"Luminesa dan FILeM Hidupkan Literasi dan Solidaritas Lewat Nobar Layar Tancap Film Anak Karya Majid Majidi. Layar tancap menjadi wahana kegiatan literasi yang mendidik dan menghibur untuk masyarakat."
Baca juga:
Gala Poin:
- Layar tancap dihidupkan kembali sebagai respon kultural terhadap fragmentasi sosial.
- Sinema diposisikan sebagai alat membangun kesadaran sosial dan empati, bukan hanya hiburan.
- Layar tancap dihidupkan kembali untuk membangun kebersamaan dan keakraban bersosial.
Forum Peduli Literasi Masyarakat (FILeM) dan Luminesa menggelar nonton bareng layer tancap mengenai film anak karya sineas Iran, Majid Majidi pada 18-19 Maret 2026 di Petamburan III, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Pemutaran ini menjadi medium meliterasikan masyarakat dan memasyarakatkan literasi lewat penayangan film dengan layar tancap sebagai kegiatan publik.
Dalam kegiatan nonton bareng ini, diputar film-film Majid Majidi seperti Children of Heaven, The Color of Paradise, dan Sun Children yang menghadirkan potret kehidupan anak-anak dalam balutan kesederhanaan, kejujuran, dan kedalaman makna.
Baca juga:
Ambisi Besar OpenAI, Ekspansi Masif di Tengah Tekanan Pasar AI
Film-film ini tidak hanya menyuguhkan cerita, tetapi menghadirkan literasi dalam arti yang luas. Literasi di sini bukan sekadar membaca teks, melainkan membaca kehidupan. Anak-anak diajak memahami dunia melalui empati, imajinasi, dan pengalaman batin.
“Dalam narasi-narasi sederhana, Majidi menanamkan kepekaan dan semangat juang yang mengajarkan bahwa harapan dapat tumbuh bahkan di tengah keterbatasan. Literasi yang ditawarkan bukan hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional, sosial, dan spiritual,” tutur Dahlan sebagai penyelenggara nobar layar tancap film karya Majid Majidi.
Film karya Majid Majidi dipilih sebagai tontonan layar tancap dikarenakan kerap bertemakan anak-anak yang sarat nilai-nilai solidaritas, empati, dan perjuangan. Foto: istimewa.
Baca juga:
Peluang Bisnis Cleaning Service Melejit Saat Lebaran
Melalui layar tancap ini, Luminesa dan FILeM berupaya mengembalikan makna menonton sebagai pengalaman kolektif. Jika dahulu menonton adalah peristiwa bersama, kini ia cenderung menjadi aktivitas yang sunyi dan personal. Di balik kemudahan teknologi, ada kebersamaan yang perlahan memudar. Kegiatan ini hadir sebagai ruang untuk merajut kembali relasi sosial, di mana masyarakat tidak hanya menonton, tetapi juga merasakan, berdialog, dan merefleksikan kehidupan bersama.
“Lebih dari sekadar pemutaran film, kegiatan ini adalah upaya membangun literasi publik yang hidup yang mendidik sekaligus menghibur dengan layar tancap,” ucap Dahlan mengenai tujuan pemutaran layer tancap.
Nobar layar tancap film karya Majid Majidi diputar di area lapangan terbuka di wilayah Petamburan III, Kelurahan Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Foto: istimewa.Ke depan, Luminesa dan FILeM berharap kegiatan ini menjadi benih bagi tumbuhnya ruang-ruang diskusi yang lebih luas. Film diharapkan mampu memantik kebersamaan dalam relasi sosial yang menghadirkan percakapan antarpenonton, mempertemukan perspektif, dan melahirkan makna baru dari pengalaman bersama.
“Dari layar sederhana yang dipancang di ruang terbuka, diharapkan lahir kesadaran bahwa kebersamaan, empati, dan pemahaman adalah fondasi penting bagi kehidupan sosial yang lebih manusiawi,” tutup Dahlan.