Lume Carbon Kenalkan Teknologi Blue Carbon, Akses Air Bersih Jadi Sorotan

GalaPos ID, Jakarta.
Krisis akses air bersih masih menjadi persoalan nyata di berbagai wilayah pesisir dan kepulauan Indonesia. Di tengah tantangan tersebut, berbagai gagasan berbasis teknologi terus bermunculan.
Namun, bagi masyarakat, ukuran keberhasilannya bukan pada banyaknya konsep yang dipresentasikan, melainkan seberapa besar manfaat yang benar-benar dirasakan di lapangan.

Lume Carbon Kenalkan Teknologi Blue Carbon, Akses Air Bersih Jadi Sorotan
Blue Carbon disebut menjadi solusi ketahanan air Indonesia. Namun, publik tentu menunggu lebih dari sekadar presentasi dan janji. Yang dibutuhkan adalah akses air bersih yang benar-benar mengalir hingga ke wilayah pesisir dan pulau terpencil. Foto: Direktur Utama Lume Carbon, Rio Fafen Ciptaswara/istimewa

"Teknologi pengolahan air terus berkembang. Tantangannya tetap sama: jangan sampai inovasi hanya deras di ruang konferensi, tetapi seret di lapangan."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Lume Carbon memperkenalkan proyek Blue Carbon bersama KKP sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan air di wilayah pesisir dan kepulauan.
2. Perusahaan mengklaim 60 persen manfaat ekonomi proyek akan dialokasikan kepada masyarakat, termasuk untuk pembangunan akses air bersih.
3. Keberhasilan program akan ditentukan oleh implementasi, transparansi, dan manfaat nyata bagi masyarakat, bukan hanya oleh inovasi teknologi yang dipaparkan.


Isu itu mengemuka dalam Indonesian Youth SDGs Summit (IYSDGS) 2026 di Auditorium Abdurahman Saleh, RRI Jakarta. Dalam forum yang mempertemukan pemerintah, akademisi, organisasi internasional, sektor swasta, dan generasi muda tersebut, Lume Carbon memaparkan strategi penguatan ketahanan air melalui pengembangan proyek Blue Carbon dan inovasi teknologi pengolahan air.

Direktur Utama Lume Carbon, Rio Fafen Ciptaswara, mengatakan persoalan utama Indonesia bukan semata-mata ketersediaan air, melainkan ketimpangan akses air bersih bagi masyarakat di wilayah pesisir, kepulauan, dan daerah terpencil.

Menurut Rio, karakter Indonesia sebagai negara kepulauan membutuhkan pendekatan yang berbeda dibandingkan wilayah perkotaan yang telah memiliki infrastruktur air relatif memadai.

Lume Carbon mengungkapkan saat ini tengah menjajaki pengembangan proyek Blue Carbon bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Program tersebut berfokus pada rehabilitasi ekosistem pesisir, termasuk lamun di Indonesia Timur serta pengembangan kawasan pesisir Pantai Utara Jawa.

Baca juga:
Jejak Digital dan Press Release, Kunci Kepercayaan Publik

Namun, di balik berbagai rencana tersebut, tantangan yang lebih besar tetap berada pada tahap implementasi. Berbagai program konservasi dan pengelolaan sumber daya alam selama ini kerap menghadapi persoalan keberlanjutan, pengawasan, hingga distribusi manfaat bagi masyarakat.
 
Lume Carbon menyatakan proyek Blue Carbon yang dikembangkan mengusung prinsip high integrity, dengan 60 persen manfaat ekonomi (benefit sharing) dialokasikan kepada masyarakat sekitar. Dana tersebut diklaim akan digunakan untuk mendukung pembangunan infrastruktur dasar, termasuk penyediaan akses air bersih.

Dalam paparannya, Rio juga mencontohkan keberhasilan Singapura mengembangkan teknologi pengolahan air melalui SingSpring dan NEWater. Menurutnya, Indonesia memiliki peluang mengadaptasi teknologi serupa dengan pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah kepulauan.

Sebagai bagian dari pengembangan proyek Blue Carbon, Lume Carbon menawarkan empat pendekatan teknologi untuk mendukung ketahanan air, yakni:
- Sistem filtrasi air untuk memperluas akses air bersih.
- Teknologi greywater treatment guna mengolah air limbah domestik agar dapat dimanfaatkan kembali.

Lume Carbon Dorong Blue Carbon untuk Ketahanan Air, Seberapa Besar Dampaknya bagi Masyarakat?
Lume Carbon memperkenalkan proyek Blue Carbon bersama KKP sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan air di wilayah pesisir dan kepulauan. Perusahaan mengklaim 60 persen manfaat ekonomi proyek akan dialokasikan kepada masyarakat, termasuk untuk pembangunan akses air bersih. Foto: Direktur Utama Lume Carbon, Rio Fafen Ciptaswara (berdiri)/istimewa

 

- Brackish Water Reverse Osmosis (BWRO) untuk mengolah air payau di kawasan pesisir.
- Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) berbasis kontainer yang menggunakan energi surya untuk melayani pulau-pulau kecil dan wilayah terpencil.

Perusahaan juga mengaku tengah mengembangkan riset membran SWRO yang diklaim lebih efisien dan terjangkau agar teknologi desalinasi dapat diterapkan secara lebih luas.

“Ketahanan air bukan hanya tentang mengolah sumber daya air, tetapi memastikan masyarakat, terutama di wilayah pesisir dan kepulauan, memperoleh akses terhadap air bersih yang layak. Melalui inovasi teknologi dan kolaborasi lintas sektor, kami ingin memastikan proyek Blue Carbon juga memberikan manfaat sosial yang nyata,” ujar Rio, dalam keterangan yang diterima GalaPos ID, Selasa, 14 Juli 2026.

Baca juga:
Iklan di GalaPos ID

Pernyataan tersebut menjadi komitmen yang patut diuji dalam implementasi. Bagi masyarakat, keberhasilan proyek tidak hanya diukur dari inovasi teknologi atau besarnya investasi, tetapi dari tersedianya akses air bersih yang berkelanjutan, peningkatan kesejahteraan warga pesisir, serta transparansi dalam pembagian manfaat ekonomi yang dijanjikan.

 

 

 

Baca juga:
Paket Publikasi Media dan Promosi Digital untuk Bisnis

Indonesia tak kekurangan seminar tentang air bersih. Yang masih langka justru air bersih yang benar-benar sampai ke rumah warga di pulau-pulau kecil.

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #BlueCarbon #KetahananAir #AirBersih #SDGsIndonesia #TeknologiLingkungan

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال